Minggu, 27 Januari 2013

Usir Stres dengan Makanan


Tubuh kita mendapatkan berbagai vitamin dan zat gizi esensial lainnya dari makanan yang kita asup sehari-hari. Memilih makanan yang tepat bukan hanya menyehatkan tubuh tapi juga akan meredam stres. Kombinasikan dengan olahraga serta kegiatan rileksasi lainnya sehingga hidup terasa lebih bahagia.

Untuk memulai hari bebas stres, cobalah semangkuk oatmeal untuk sarapan. Oatmeal ini kaya serat larut yang membantu anda merasa kenyang lebih lama, vitamin B dan magnesium. Penelitian yang menunjukkan hubungan yang kuat antara magnesium dan kesehatan mental: Kekurangan magnesium dapat menyebabkan iritabilitas, depresi dan kecemasan. Dan karbohidrat kompleks seperti oatmeal bisa membantu menghasilkan serotonin, yang membantu membuat Anda tenang dan melawan kecemasan.
Kemudian, konsumsilah kelompok ikan, seperti salmon (menjadi sumber asam lemak omega-3 dan vitamin B) atau tuna (tinggi vitamin B6 dan B12). Ikan merupakan sumber vitamin B yang rendah lemak dan ampuh untuk mengatasi stres. Salmon juga dapat membantu meningkatkan kadar serotonin dalam tubuh.
Bila Anda perlu camilan, cobalah kacang almond atau makanan olahan almond lain. Kadang-kadang, hanya dengan memakan sesuatu yang renyah dapat membantu mengurangi stres yang Anda rasakan. Untuk nutrisinya, almond sarat dengan vitamin B12 dan vitamin E, magnesium, dan seng. Vitamin E dapat membantu melawan kerusakan yang menyebabkan radikal bebas, terutama yang menyebabkan penyakit jantung.
Selain itu, pertimbangkan juga untuk mengemil kuaci. Biji bunga matahari merupakan sumber magnesium dan folat, yang membantu menghasilkan dopamin, sebuah penyalur impuls saraf (neurotransmitter) di otak yang berhubungan dengan rasa senang yang dirasakan manusia.
Lebih suka sesutu yang manis? cobalah cokelat hitam yang kaya akan flavonoid dan membantu rileks. Kandungan penting lainnya adalah  phenethylamine yang membantu meningkatkan suasana hati Anda. Studi juga menunjukkan bahwa makan sejumlah kecil cokelat hitam setiap hari dapat membantu menurunkan kadar kortisol, salah satu hormon stres utama yang dihasilkan dalam tubuh.
Selain itu, ada juga bluberi. Buah ini tinggi serat, rendah kalori namun cukup untuk memenuhi keinginan anda untuk mengunyah makanan manis. Blueberry sarat dengan antioksidan dan vitamin C, keduanya yang membantu melawan efek stres pada tubuh Anda.

Sumber :
Everyday Health
Editor :
Lusia Kus Anna

Waspada, Tato Bisa Tularkan Hepatitis






Seni merajah tubuh alias tato kini sudah menjadi tren. Menurut survei tahun 2012, satu dari lima orang memiliki tato. Sayangnya, selain mendapatkan gambar yang sulit dihilangkan, tato juga membawa risiko penularan penyakit hepatitis C.

Hepatitis C adalah penyebab utama kanker lever dan juga cangkok organ. Sekitar 70 persen orang yang terinfeksi virus hepatitis C menderita penyakit lever kronik dan 5 persennya meninggal karena sirosis atau kanker lever.

Di Amerika, sebanyak 3,2 juta orang terinfeksi hepatitis C dan tidak menyadarinya karena mereka tak merasa sakit.

Penularan virus hepatitis utamanya terjadi melalui transfusi darah atau jarum suntik. Menurut data pusat pengendalian dan pencegahan penyakit AS, sekitar 60 persen kasus hepatitis baru setiap tahunnya disebabkan karena narkoba suntik.

Meski begitu, sekitar 20 persen kasus hepatitis tidak memiliki riwayat pernah memakai jarum suntik atau terpapar.

Menurut Dr Fritz Francois dari New York University, Langone Medical Center melakukan penelitian dan menemukan sekitar 34 persen orang yang terinfeksi hepatitis memiliki tato, dibandingkan dengan 12 persen yang tak terinfeksi.

"Tato merupakan faktor risiko penularan penyakit ini dan virus hepatitis bisa tidak aktif selama bertahun-tahun," kata Francois.

Dalam penelitiannya, Francois mewawancarai lebih dari 2.000 orang mengenai tato yang dimiliki dan status hepatitisnya. Para responden diambil dari tiga rumah sakit di New York antara tahun 2004 dan 2006.

Setelah memperhitungkan berbagai faktor risiko, perbedaan antara orang yang terinfeksi dan yang bukan makin nyata. Sekitar orang yang pernah melakukan tato empat kali lipat yang terinfeksi hepatitis C.



Sumber :

Kamis, 19 Juli 2012

FDA Setujui Pil Pencegah HIV



Badan pengawasan obat dan makanan Amerika (Food and Drug Administration/FDA), memberikan persetujuan pada obat pertama untuk mengurangi risiko infeksi HIV. Ini merupakan sebuah tonggak dalam 30 tahun perang melawan virus penyebab AIDS itu.

FDA menyetujui pil Truvada hasil penemuan Gilead Sciences, sebagai pencegahan bagi orang sehat yang beresiko tinggi tertular HIV melalui aktivitas seksual, misalnya mereka yang punya pasangan penderita HIV. 

Keputusan tersebut keluar kurang dari dua minggu setelah sebelumnya FDA mengeluarkan produk tes HIV yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Produk itu yang juga dianggap sebagai tonggak.

Kedua keputusan FDA tersebut dinilai sebagai langkah besar dalam upaya mengurangi penyebaran HIV di Amerika Serikat yang kini stabil di angka 50.000 kasus baru setiap tahunnya dalam 15 tahun terakhir.  Diperkirakan 1,2 juta orang Amerika terinfeksi HIV dan berkembang menjadi AIDS karena tidak mendapat terapi antivirus. Sementara itu sekitar satu dari lima orang tidak menyadari dirinya terinfeksi HIV.

Disetujuinya pil Truvada dianggap sebagai sebuah terobosan dalam strategi pencegahan HIV, terutama setelah makin luasnya akses tes HIV, penggunaan kondom, serta dukungan konseling. 

Namun ada kekhawatiran dari para dokter jika pasien tidak menggunakan obat tersebut dengan benar. Menurut Dr.Tom Giordano, pakar HIV dari Baylor College of Medicine, Truvada harus diminum setiap hari supaya efektif. 

"Dari penelitian diketahui obat ini sangat efektif pada orang yang beresiko tinggi dan disiplin minum obat setiap hari," katanya.

Dalam label obat juga disebutkan seseorang harus melakukan tes HIV terlebih dahulu untuk memastikan ia belum terinfeksi. Pasien yang sudah terinfeksi HIV bisa membuat virus menjadi lebih kebal pada obat sehingga sulit diobati. Efek samping obat ini yang diketahui adalah gangguan ginjal dan liver.

Gilead Science Inc, yang menciptakan Truvada, sebenarnya telah memasarkan obat ini sejak tahun 2004 sebagai terapi bagi orang yang sudah terinfeksi HIV. Pil ini dikombinaskan dengan dua pil lainnya, yakni Emtriva dan Viread.

Dalam penelitian yang mereka lakukan selama tiga tahun diketahui bahwa konsumsi Truvada setiap hari bisa mengurangi risiko penularan pada pria biseksual atau gay sampai 42 persen, jika dikombinasikan dengan kondom. Tahun lalu, penelitian juga menemukan Truvada mengurangi infeksi HIV sampai 75 persen pada pasangan heteroseksual yang salah satu pasangannya terinfeksi HIV.

Disetujuinya Truvada sebagai bagian dari pencegahan infeksi HIV juga menuai protes dari AIDS Healtchare Foundation. Mereka menilai obat itu bisa memberikan rasa aman palsu dan mengurangi penggunaan kondom yang sudah teruji sebagai pencegah HIV.

Namun para pakar dari FDA mengatakan bahwa dari penelitian tidak terbukti penggunaan Truvada akan meningkatkan perilaku seksual beresiko. "Yang kami temukan adalah penggunaan kondom justru meningkat dan penularan penyakit menular seksual bisa ditekan," kata Dr.Debra Birknkrant, dari FDA.

Truvada sendiri dipasarkan dengan harga cukup mahal, yakni sekitar 14.000 dollar Amerika per tahun atau sekitar Rp 127 juta. Tetapi harga tersebut dianggap masih murah daripada pengobatan HIV seumur hidup. Pengobatan AIDS sendiri menghabiskan biaya sekitar 600.000 dollar Amerika sejak seseorang didiagnosa.
Sumber :
AP

Waspadai Kelebihan Dosis Parasetamol



Penelitian mengindikasikan, jutaan orang di dunia mungkin berada pada risiko kelebihan dosis parasetamol. Penggunaan yang tidak sesuai anjuran dari obat-obat pereda sakit paling populer ini bukan hanya akan menimbulkan risiko overdosis, melainkan juga kerusakan pada organ hati.

Kajian para ahlii dari Northwestern University di Chicago AS menyatakan, hampir 25 persen orang dewasa keliru dalam mengonsumsi parasetamol. Banyak di antara pasien meminum obat ini melebihi dosis yang direkomendasikan dalam kurun waktu 24 jam.

Para pengguna kebanyakan menghiraukan instruksi dosis atau tata cara penggunaan, terutama kaum lanjut usia yang kerap lupa berapa tablet yang sudah mereka konsumsi. Ada pula pasien yang tidak menyadari kalau mereka sedang dalam perawatan menggunakan obat lain yang mengandung acetaminophen, bahan aktif  Parasetamol.

Rekomendasi dokter untuk dosis maksimal parasetamol adalah delapan tablet 500 mg dalam sehari. Maksimal hanya dua tablet saja untuk sekali minum dalam setiap empat jam. Bila melebihi batas yang ditentukan, salah satu konsekuensinya adalah overdosis yang menyebabkan kerusakan liver dan penumpukan cairan di otak yang berisiko fatal.

Dalam riset yang dimuat Journal of General Internal Medicine edisi online tersebut, Dr Michael Wolf melakukan kajian mengenai prevalensi penyalahgunaan acetaminophen dan kemungkinan overdosis. Wolf mewawancarai lebih dari 500 pasien dewasa yang berobat ke klinik di sejumlah kota di AS antara September 2009 hingga Maret 2011.

Para peneliti menguji sejauhmana pemahaman pasien mengenai dosis dan kemampuan mengonsumsi obat acetaminophen secara tepat. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan. Lebih dari seperempat pasien berada dalam risiko overdosis karena mengonsumsi obat pereda sakit melebihi batas maksimal 4 gram dalam 24 jam. Selain itu, ada 5 persen pasien yang membuat kesalahan fatal karena menenggak obat lebih dari 6 gram dalam 24 jam. Sedangkan hampir 50 persen pasien berisiko overdosis karena melakukan "double-dipping" atau menenggak dua jenis obat yang mengandung acetaminophen.

"Temuan kami mengindikasikan banyak konsumen yang tidak mengenal atau membedakan bahan aktif dalam obat pereda sakit yang dijual bebas, mereka juga tidak menyimak dengan cermat instruksi pada label kemasan obat," ujar Wolf.

"Dengan adanya prevalensi, risiko signifikan dari efek buruk, dan minimnya pemahaman, seorang dokter seharusnya memberi panduan  dalam pengambilan keputusan dan menganjurkan pasien tentang penggunaan obat yang tepat," tambahnya. 
 
Sumber :
dailymail.co.uk

Penggunaan Kondom di Kalangan PSK Menurun




Menurut pantauan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DKI Jakarta, pemakaian kondom di kelompok berisiko tertular HIV, yakni pekerja seks komersil cenderung menurun setiap tahunnya. Selain alasan pelanggan tidak mau memakai kondom, kebanyakan wanita PSK malas menggunakan kondom perempuan karena alasan sulit memakainya.

Untuk itu, dibutuhkan edukasi lebih mendalam, agar tumbuh kesadaran kritis dari orang yang berisiko tersebut untuk melindungi dirinya.
"Mengubah perilaku memang tidak mudah kalau seseorang tak punya kesadaran kritis akan kesehatan dirinya. Makanya, kalau mereka memakai kondom hanya karena disuruh mucikarinya pasti sifatnya sementara," kata Santi Sardy, dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DKI Jakarta, dalam acara media edukasi Program Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS) yang diadakan Komisi Penanggulangan AIDS DKI Jakarta, Rabu (18/7).
Upaya perubahan perilaku pada populasi kunci, yakni PSK, gay, waria, dan juga pelanggan PSK, menjadi salah satu program PMTS Komisi Penanggulangan AIDS DKI Jakarta yang dilakukan oleh PKBI. Selain melakukan pendekatan kepada para pemilik tempat hiburan, para edukator juga melakukan pembagian media kit dan pendekatan kepada kelompok berisiko untuk memastikan mereka memahami risiko dari hubungan seks yang tidak aman.
Kendala yang sering dihadapi para penjangkau atau edukator antara lain kurangnya peran serta para pemangku kepentingan dan hambatan birokrasi di lokasi tempat hiburan. "Saat ini kami memiliki strategi baru community organizing yang akan terjun ke komunitas masyarakat untuk menjangkau ibu rumah tangga dan pria pelanggan PSK," kata Santi.
Tren peningkatan kasus HIV di kalangan ibu rumah tangga sampai 50 persen dibanding tahun 2010 diakui Santi karena ibu rumah tangga sebagai kelompok berisiko rendah tidak menjadi fokus penjangkauan pencegahan HIV.
"Selama ini fokusnya wanita PSK di populasi kunci sehingga lupa pada wanita di luar kelompok itu yang rentan tertular HIV dari suami atau pasangan yang jadi pelanggan," paparnya.
Kepala Bidang Promosi dan Pencegahan KPA DKI Aritha Herawati mengungkapkan bahwa PMTS bertujuan untuk mengajak kelompok yang berisiko melakukan perubahan perilaku supaya lebih sehat. Berdasarkan data seksi surveilans epidemiologi HIV dan AIDS di DKI Jakarta tahun 2011 adalah 1.273 kasus infeksi HIV baru dan 1.332 AIDS baru. Berdasarkan profesi, ibu rumah tangga menempati urutan kedua setelah karyawan swasta.
Sumber : Kompas.com

Jaga Kebersihan Sikat Gigi



Tahukah Anda bahwa sikat gigi andalan kita untuk membersihkan kuman dan bakteri justru bisa menjadi sarang kuman dan menyebabkan sakit. 

Untuk mencegah kuman, selalu simpan sikat gigi di tempat yang jauh dari kloset. "Saat kita menekan tombol flush di kloset, uap dari air akan menempel ke berbagai permukaan di dalam toilet, termasuk ke sikat gigi," kata Charles Gerba, ahli mikrobiologi.

Karena itulah sebaiknya simpan sikat gigi di tempat yang agak jauh dari kloset atau tempat tertutup. Selain itu, sebaiknya sikat gigi tidak berdekatan dengan sikat gigi milik orang lain untuk mencegah kontaminasi. 

Setiap sikat gigi bisa mengandung 10 juta mikroba, termasuk bakteri penyebab penyakit gusi dan lubang di gigi. Mikroba tersebut bisa bertahan sampai satu hari dalam sikat gigi.

"Sikat gigi adalah tempat yang ideal untuk berbagai kuman dan bakteri karena mengandung air dan juga makanan kuman. Sikat gigi juga merupakan pintu masuk ke tubuh manusia," kata Dr.Tom Glass, pakar patologi mulut dari Universitas Oklahoma. 

Selalu bersihkan sikat gigi setelah digunakan dan hindari menyimpannya di tempat kecil, lembab dan tertutup. 

Untuk mencegah penularan, sebaiknya ganti sikat gigi dengan baru setelah Anda sembuh dari penyakit influenza. Bila Anda menderita penyakit sistem imun, disarankan untuk berkumur dengan obat kumur sebelum Anda menyikat gigi. 

Cara lain untuk mengurangi tumpukan bakteri di sikat gigi adalah merendamnya dalam cairan obat kumur antibakteri. Para pakar juga tidak menyarankan untuk melakukan sterilisasi sikat gigi dengan menaruhnya dalam microwave atau mesin pencuci piring karena akan merusak plastik.
Sumber :

Mengenalkan Anak Ibadah Puasa





Anak-anak memang tidak wajib berpuasa, namun sejak balita ia sudah bisa diajak memahami makna puasa sesuai dengan tahap kematangan emosional anak.

Sebelum mengajarkan anak berpuasa, yang harus dipahami setiap orangtua adalah tidak ada unsur paksaan. 

"Ketika mengajak anak, prinsipnya adalah belajar. Orangtua harus menanamkan kesan positif tentang baiknya puasa sehingga anak tidak membenci puasa," kata dr.Pimprim Basarah Yanuarso, Sp.A. 

Supaya anak gembira berpuasa, sebaiknya lakukan pengkondisian beberapa hari sebelum dimulainya puasa. Misalnya diajarkan nikmatnya berpuasa, melakukan ritual ibadah bersama-sama, dan sebagainya tergantung perkembangan pemahaman anak.

Berapa jam idealnya anak berpuasa? Ini pun sifatnya individual. "Tergantung kematangan emosional anak. Orangtua yang lebih tahu berapa lama seorang anak tahan menderita tidak makan dan minum," kata Pimprim.

Orangtua juga bisa berdiskusi dengan anak untuk mengetahui kesanggupannya berpuasa berapa jam. "Yang agak sulit jika ada adiknya atau teman-teman di sekitarnya yang tidak berpuasa. Tapi orangtua bisa memotivasi semangat anak," imbuh dokter spesialis anak dari RSIA.Hermina Bekasi ini.

Dari sisi medis, menurut Pimprim, pada dasarnya anak yang sehat dan cukup gizi boleh berpuasa. "Anak yang menderita penyakit kronis seperti anemia atau status gizinya kurang sebaiknya tidak berpuasa dulu," tandasnya.

Untuk menjaga asupan kalori anak, pastikan anak melakukan sahur setiap hari. "Puasa selama 14 jam kalau dibekali dengan kalori ekstra tidak akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak," katanya.

Supaya puasanya lancar, ajak anak melakukan berbagai aktivitas sehingga anak tidak mengingat rasa laparnya. Misalnya dengan membacakan buku cerita, bermain balok, atau kegiatan lain yang disukai anak. 

Selamat melatih si kecil berpuasa.


Sumber : www.kompas.com

Senin, 21 Mei 2012

Dexa Medica Terus Berkomitmen Memasyarakatkan OGB


Dexa Medica
Tim Pemasaran PT Dexa Medica melakukan Bakti Sosial Pelayanan Kesehatan bersama Rumah Sakit TNI-AL (Rumkital) Dr. Ramelan Surabaya pada hari Minggu, 24 Juli 2011 di Instalasi Rawat Jalan rumah sakit tersebut
Mengubah persepsi masyarakat terhadap Obat Generik Berlogo (OGB) memang tidak mudah. Perlu usaha dan kerjasama yang lebih komprehensif baik dari pemerintah maupun perusahaan industri farmasi.

Salah satu pabrik swasta nasional yang terus memproduksi OGB secara berkesinambungan sejak tahun 1991 adalah Dexa Medica. Komitmen Dexa Medica dalam menyediakan OGB merupakan sebagai upaya mendukung program pemerintah, yang pada tahun 1989 meluncurkan program produksi OGB.

Tarcisius T. Randy, Head of Marketing and Sales OGBdexa, mengungkapkan, sebagai perusahaan farmasi yang mendukung program OGB, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk lebih memasyarakatkan OGB kepada masyarakat. Mulai dari talkshow di radio, memberikan pengobatan gratis dan edukasi tidak hanya kepada pasien, tetapi juga dokter dan apotek. 

"Memang selama ini peran pemerintah dalam hal sosialisasi dan edukasi masih kurang, sehingga kami sendiri mencoba meyakinkan ke masyarakat agar mereka yakin dengan OGB, khususnya dexa," katanya.

Saat ini, dexa sudah memiliki sekitar 90 item OGB, yang terdiri dari berbagai jenis sediaan, baik berupa oral, injeksi, dan topikal. Jumlah ini akan terus ditingkatkan mengingat masih ada 400 lebih item OGB.

Tarcicius menjelaskan, harga OGB relatif lebih murah ketimbang obat branded atau bermerek dikarenakan harganya ditetapkan oleh pemerintah sehingga terjangkau oleh masyarakat. Meskipun demikian tidak berarti bahwa OGB adalah obat murahan dan tidak berkualitas.

"Memang murah tapi tidak murahan. Karena OGB dan branded memiliki kualitas dan khasiat yang sama," katanya.

Banyak faktor yang dapat menekan harga OGB sehingga terjangkau oleh masyarakat. Pertama, OGB diproduksi dalam jumlah yang besar, sehingga skala produksinya efisien. Skala produksi yang besar, dapat menekan biaya produksi. Bahan baku dan kemas yang digunakan juga dalam jumlah besar sehingga harga pembeliannya lebih rendah, bila dibandingkan dengan pembelian dalam jumlah kecil.

Kedua, OGB selalu dibuat sederhana, tetapi memiliki daya kemas yang baik (sesuai ketentuan BPOM, untuk menjamin kualitas obat), sehingga menurunkan biaya kemasan. "Kalau OGB paling hanya tiga warna dan dominasi putih. Di situlah kenapa OGB harganya terjangkau," ucap Tarcisius.

Ketiga, obat generik hanya meng-copy obat paten yang sudah ada, dan tentu setelah masa patennya berakhir. Sehingga untuk menilai khasiat, keamanan, dan kualitas obat generik tidak diperlukan lagi uji klinis.

Tarcisius mengatakan, harga OGB di Indonesia biasanya sepertiga kali daripada harga obat branded. Bahkan pada beberapa jenis obat branded ada yang harganya 10 kali lipat lebih tinggi ketimbang OGB.

"Volume OGB di pasaran baru sekitar 10 persen dari total pasar obat, jadi peluangnya masih besar. Kalau orang mau berhemat, pakai OGB," tambahnya.

Produsen yang mau memproduksi OGB, lanjut Tarcisius, harus memiliki sertifikat CPOB  (Cara Pembuatan Obat yang Baik) yang diterbitkan pemerintah. Pada tahun 1990, Dexa Medica merupakan satu dari lima perusahaan farmasi pertama yang menerima sertifikat CPOB dari Badan Pengawas Obat dan Makan (BPOM).

Di situlah awal mula dexa memproduksi obat-obatan yang masal seperti misalnya paracetamol dan amoxicilin. "Sekarang kita sedang melirik obat apa lagi yang sering diresepkan dokter-dokter yang belum ada generiknya," ujarnya.

Menggarap apotik


Mengingat masih terbatasnya ketersediaan obat generik di apotik, dexa memiliki program khusus yakni memperluas area distribusi OGB ke apotek-apotek di seluruh Indonesia. Rencananya akan ada 3.000 apotek yang masuk dalam target pemasaran.

Dari 3.000 apotek yang menjadi sasaran tersebut, Tarcisius berharap, semua item OGB dexa dapat tersedia. Kalau pun tidak,  minimal untuk penyakit kronis harus ada. 

"Pemerataan ketersediaan OGB itu penting. Jadi percuma kalau iklan OGB di gembar-gemborkan tapi ketersediaannya tidak ada," paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, banyak apotek yang lebih memilih untuk menjual obat bermerek dikarenakan keuntungan yang didapat bisa lebih besar meski hanya menjual dalam jumlah kecil. Sedangkan OGB, harus jual banyak baru dapat untung.

"Kami sudah menentukan apotek mana saja yang akan memakai OGB dexa," ucapnya. 

Selain apotek, dexa juga akan memperluas distribusi OGB ke rumah sakit swasta, khususnya bagi pasien kelas III. Karena ada beberapa rumah sakit swasta yang juga menangani pasien dengan ASKES.

Dexa berkomitmen akan terus memperbesar bisnis OGB, apalagi sejak disahkannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Sekarang yang dibutuhkan adalah dukungan dan ketegasan dari pemerintah untuk kembali mewajibkan rumah sakit umum pemerintah dalam menyediakan OGB, serta mengimbau rumah sakit swasta supaya mau menyediakan OGB.

Tarcisius mengungkapkan, jika dibandingkan dulu dan sekrang, persepsi masyarakat terhadap OGB sudah makin meningkat. Bahkan menurutnya, pasien sudah berani meminta kepada dokter untuk diresepkan obat generik, jika memang ada.

"Kalau masyarakat seluruhnya sudah mengerti benar tentang OGB, masyarakat banyak terbantu, apalagi ditengah naiknya harga-harga kebutuhan hidup seperti sekarang ini," tutupnya.

Sumber : www.kompas.com

Ibu Pakai Obat Kesuburan, Anak Berisiko Leukimia?


shutterstock
TERKAIT:

Penggunaan obat-obatan kesuburan ternyata memiliki risiko terhadap janin. Sebuah riset terbaru para ilmuwan mengindikasikan, orang tua yang menggunakan obat kesuburan berisiko dua kali lipat memiliki anak dengan leukemia.

Menurut ilmuwan, seorang ibu yang menjalani terapi obat-obatan perangsang ovarium 2,6 kali lebih mungkin memiliki anak yang menderita sakit acute lymphoblastic leukemia (ALL), jenis paling umum dari leukimia. Bahkan, risiko mereka untuk memiliki anak dengan  leukemia myeloid akut (AML) meningkat sekitar 2,3 kali lipat. AML merupakan kanker yang menyebar dengan cepat di dalam darah dan sumsum tulang.

Menurut peneliti, anak-anak yang dikandung secara alami (tanpa bantuan) memiliki kemungkinan lebih besar mengidap leukimia. Tetapi peningkatan risiko leukimia tidak terlihat pada anak yang dikandung dengan pembuahan bantuan seperti fertilisasi in-vitro (IVF) atau inseminasi buatan. Meski begitu, para ilmuwan Prancis belum dapat sepenuhnya menjelaskan temuan mereka terkait hubungan khusus antara penggunaan obat kesuburan dan leukimia.

Riset ini dipimpin oleh Dr Jeremie Rudant, dari Pusat Penelitian Epidemiologi dan Kesehatan Penduduk di lembaga penelitian Perancis INSERM di Villejuif, Paris. Temuan ini dipresentasikan pada Childhood Cancer 2012 Conference di London.

Dalam risetnya, peneliti melibatkan sebanyak 2.445 anak-anak dan ibu asal Prancis, yang terdiri dari 764 anak yang telah didiagnosis dengan leukemia dan 1.681 lainnya bebas dari penyakit itu. Para ibu ditanya apakah mereka menjalani terapi pengobatan lebih dari satu tahun untuk hamil dan juga mempertanyakan tentang metode perawatan yang mereka terima.

Setiap tahunnya ada sekitar 44.000 siklus pengobatan kesuburan dilakukan di Inggris. Penggunaan teknologi kesuburan cenderung menunjukkan peningkatan di seluruh dunia. Tahun 2007 di Inggris misalnya, 1,8 persen dari semua kelahiran hidup diperoleh melalui perawatan kesuburan. Jumlah ini jauh lebih besar jika dibandingkan pada tahun1992 yang hanya 0,5 persen. 

Peneliti mengatakan, meskipun ada risiko yang signifikan, tetapi jumlah anak yang mengalami leukemia dari ibu mereka yang menjalani perawatan kesuburan masih sangat kecil.

Ada sekitar 400 kasus leukimia yang didiagnosis setiap tahun di Inggris. Leukimia dapat mempengaruhi anak-anak dari segala usia tetapi paling sering terjadi pada anak usia satu dan empat tahun. Leukimia juga lebih cenderung mempengaruhi anak laki-laki ketimbang anak perempuan.

Sulit Tidur dan Ketergantungan Obat Tidur



shutterstock
Sulit tidur adalah kondisi yang banyak dialami oleh pasien yang berkunjung ke saya di dalam praktek sehari-hari. Kesulitan tidur ini biasanya tidak dialami dalam waktu yang singkat tetapi sudah berlangsung lama. Pasien juga sudah menggunakan obat anti insomnia yang kemudian menjadi tidak nyaman karena sering kali menjadi tergantung dan sulit lepas. Rata-rata pasien yang datang ke saya adalah pasien dengan kesulitan tidur yang kronis.
Wanita,67 tahun, sudah dua tahun belakangan ini menggunakan Esilgan 2mg (Estazolam) untuk membantunya tidur. Pasien mengatakan sebelumnya sudah menggunakan Xanax 0.5mg-1mg untuk membantunya tidur tetapi kemudian diganti oleh dokter keluarganya dengan Esilgan. Kondisi kecemasan akut dan kronis disangkal oleh pasien,pasien mengatakan kondisi sulit tidurnya memang suka terjadi di saat muda dan sering hilang timbul. Pada usia di atas 60 tahunan ini pasien merasa keluhan sulit tidur semakin bertambah sering datang. Pasien mengatakan dia datang berkonsultasi karena efek obat esilgan-nya tidak efektif lagi. Pasien membutuhkan dosis yang lebih besar agar cepat tidur. Pada pemeriksaan status mental didapatkan kondisi kesehatan jiwa yang sesuai dengan usia pasien, tidak ada penurunan fungsi kognitif, gejala depresi dan cemas saat ini tidak tampak nyata. Pengobatan akhirnya diberikan kepada pasien untuk memperbaiki pola tidurnya tersebut dengan bantuan obat antidepresan yang bekerja di reseptor serotonin dan melatonin (M1 dan M2) serta diberikan anti insomnia non-benzodiazepin. Dua minggu kemudian pasien kontrol dan mengatakan bisa melepaskan dari Esilgannya. Pasien sering merasa nyaman dengan obat yang dimakan saat ini, rencana akan melepaskan obat dalam jangka waktu 1-3 bulan tergantung kondisi pasien.
Kesulitan tidur adalah gangguan jiwa yang paling sering dialami oleh manusia. Hampir semua dari kita pernah mengalami insomnia minimal sekali dalam kehidupannya. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap insomnia dan pada prakteknya di praktek psikiatri sehari-hari, kebanyakan hal tersebut disebabkan oleh gangguan kejiwaan. 
Setidaknya ada empat hal yang sering berhubungan dengan insomnia yaitu penyakit fisik, penyakit jiwa, kebiasaan dan usia. Berikut adalah pemaparannya ;
Penyakit Fisik
Beberapa penyakit fisik seperti diabetes melitus (penyakit gula), penyakit pembesaran prostat, penyakit infeksi paru-paru yang menyebabkan gangguan pernapasan, penyakit non-infeksi paru-paru yang menyebabkan gangguan pernapasan seperti asma bronkiale, nyeri pada kondisi medis umum (akibat luka operasi, luka trauma karena kecelakaan, kanker, penyakit peradangan menahun yang menyebabkan nyeri),pasca stroke, gangguan jalan napas berhubungan dengan kelainan anatomi atau infeksi di Telinga Hidung Tenggorokan.
Penyakit Jiwa. Hampir semua kondisi gangguan kejiwaan bisa mengalami kesulitan tidur. Gangguan cemas, depresi, skizofrenia, gangguan waham, gangguan somatoform, gangguan penyalahgunaan zat narkotika dan gangguan lainnya bisa menyebabkan kondisi kesulitan tidur. Pada praktek sehari-hari di klinik psikiatri, pasien dengan kesulitan tidur paling banyak adalah dari kalangan pasien dengan gangguan jiwa ini.
Kebiasaan. Tidur adalah sesuatu yang mengikuti pola perilaku manusia. Maka tidur bisa dikondisikan. Pasien perlu mempunyai kebiasaan tidur yang baik terutama dalam pengaturan waktu tidur. Usahakan tidur jika sudah mengantuk dan tidur tidak lebih dari tengah malam.
Usia. Usia semakin lanjut biasanya akan berhubungan dengan semakin meningkatnya angka kejadian insomnia.
Tidur seharusnya dicapai dalam keadaan normal. Pasien dengan gangguan tidur perlu mendapatkan pengobatan dengan tujuan memperbaiki fungsi tidur normalnya. Jadi, tujuan pengobatan bukan untuk membantu pasien tidur dengan memberikan obat-obatan untuk tidur, tetapi obat bertujuan untuk memperbaiki fungsi tidurnya agar tidur tanpa obat atau tidur normal tercapai. Pada awal-awal terapi, pasien terkadang harus menggunakan obat apalagi jika insomnianya bukan merupakan masalah primer melainkan sekunder akibat kondisi gangguan jiwa lainnya.
Untuk itu, dasarnya harus diperbaiki dulu sehingga kondisi insomnianya tidak berulang. Kalau hanya menggunakan obat untuk membantu tidur tanpa menggunakan obat untuk mengobati dasar penyakitnya maka akan percuma. Selain itu pengobatan non-farmakologis (bukan dengan obat) diperlukan. Biasanya hal ini berhubungan dengan kebiasaan tidur dan makanan serta kegiatan yang berhubungan dengan tidur. Modifikasi gaya hidup sering diperlukan agar membantu proses tidur yang baik. Semoga bahasan singkat ini bisa membantu.

Sumber : www.kompas.com

Kamis, 03 Mei 2012

Kanker Paru, Pencuri Kehidupan yang Sulit Dideteksi




Oleh : Atika Walujani Moedjiono
Kanker paru bisa dibilang sebagai pencuri kehidupan. Kanker ini tersembunyi di buli paru. Sulit dilacak. Kalaupun kemudian diketahui, ia sudah meruyak ke bagian lain tubuh dan sudah sulit dibasmi. 

Menurut Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan Menaldi Rasmin, kanker paru sulit dideteksi karena letaknya di dalam. Maksudnya, di paru yang terletak di rongga dada. Gejalanya pun tidak spesifik, hanya berupa batuk.

”Biasanya kalau pasien datang dengan keluhan batuk, dokter jarang yang curiga itu kanker,” katanya, Rabu (2/5). Kalaupun dirontgen, tidak serta-merta bisa dipastikan kanker. Harus diperiksa melalui bronkoskopi dilanjutkan dengan biopsi. ”Feeling dokter di sini penting untuk bisa mendeteksi secara dini penyebab keluhan batuk,” ujar Menaldi.

Kanker paru, seperti halnya kanker lain, merupakan akibat abnormalitas sel yang membelah tak terkendali. Sel kanker paru biasanya menyebar ke kelenjar anak ginjal, hati, otak, dan tulang.

Tugas utama paru adalah melaksanakan pertukaran gas karbon dioksida yang dibuang dari aliran darah dengan oksigen yang kita hirup ke aliran darah. Paru kanan memiliki tiga ruang, sedangkan paru kiri terdiri dari dua ruang dan satu ruang kecil disebut lingula yang berfungsi seperti ruang tengah pada paru kanan.

Saluran udara utama yang masuk paru adalah cabang tenggorok (bronkus) yang berawal dari tenggorok (trakea). Bronkus bercabang-cabang kecil disebut bronkioli yang berujung pada kantong kecil disebut alveoli (buli paru) tempat gas bertukar. Paru dan dinding dada dibungkus selaput tipis disebut pleura.

Kanker paru dapat timbul di bagian mana pun dari paru. Namun, 90-95 persen bermula dari sel epitel, yakni sel yang melapisi bronkus dan bronkioli.

Menurut Menaldi, penderita kanker paru memiliki gen yang cenderung bermutasi jika berinteraksi dengan zat karsinogenik (penyebab kanker). Keyakinan ini diperkuat dengan hasil pemetaan genetik manusia (human genom project) tahun 2005. Dari hasil pemetaan itu dibuktikan bahwa gen tertentu berasosiasi dengan penyakit tertentu di kemudian hari.

Pemicu kanker paru utama adalah asap rokok. Hampir 90 persen kanker paru, baik pada perokok aktif maupun perokok pasif, disebabkan oleh rokok. Asap rokok mengandung 4.000 senyawa kimia, banyak di antaranya terbukti menyebabkan kanker. Senyawa utama yang bersifat karsinogenik adalah nitrosamin dan hidrokarbon aromatik polisiklik. Pemicu lain adalah asbes, gas radon, polusi udara dari asap kendaraan, dan industri.

Menurut situs Medicinenet.com, kasus kanker paru sangat jarang sebelum tahun 1930-an. Peningkatan dramatis kanker paru terkait peningkatan jumlah perokok. Saat ini, sekitar 3.000 kematian akibat kanker paru setiap tahun di Amerika Serikat dialami perokok pasif.

Jenis kanker paru

Menurut Menaldi, kanker paru yang paling ganas dan cepat menyebar adalah kanker paru karsinoma sel kecil (small cell lung cancer). Jenis kanker paru ini lebih efektif dibasmi dengan kemoterapi.

Jenis lain adalah kanker paru bukan karsinoma sel kecil (nonsmall cell lung cancer). Kanker yang paling umum ini (80 persen kasus) terbagi lagi menjadi karsinoma sel skuamosa, adenokarsinoma, dan karsinoma sel besar. Karsinoma skuamosa yang berada di saluran napas tumbuh sangat cepat. Jenis ini bisa diterapi dengan operasi. Adapun adenokarsinoma tumbuh di parenkim (jaringan) paru cenderung menyebar dengan cepat sehingga lebih efektif dikemoterapi.

Kanker paru umumnya tidak ada gejala awal. Pada tahap lanjut, gejalanya antara lain napas tersengal-sengal, napas berbunyi, nyeri dada, dan batuk berdarah.

Menurut Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan Anwar Jusuf, gejala kanker paru biasanya berupa batuk, berat badan turun, serta tidak nafsu makan. ”Hal itu sama dengan gejala penyakit lain, seperti tuberkulosis atau pneumonia,” katanya.

Kanker paru umumnya ditemukan pada stadium III atau stadium IV. Pada stadium III, sel kanker masih di rongga dada, tetapi sudah melewati paru. Pada stadium IV, sel kanker sudah menyebar ke organ di luar paru.

Kanker paru didiagnosis lewat pemeriksaan fisik, antara lain sianosis, yakni kebiruan pada kulit, dasar kuku, dan selaput lendir. Ini merupakan tanda kekurangan oksigen akibat penyakit paru kronik. Pemeriksaan lain lewat rontgen dada. Hal ini hanya menunjukkan daerah mencurigakan, tetapi tidak bisa untuk memastikan bahwa bintik yang ada merupakan kanker.

Cara lain dengan bronkoskopi, biopsi, computes tomography (CT) scan, magnetic resonance imaging(MRI), dan positron emission tomography (PET) Scan, scan tulang, ataupun tes darah untuk melihat pertanda tumor.

Stadium

Stadium kanker merupakan ukuran sejauh mana kanker menyebar dalam tubuh (Grafis). Stadium mencakup evaluasi ukuran kanker dan penetrasi ke jaringan dan kelenjar getah bening di sekitarnya.

Penetapan stadium penting untuk menentukan pengobatan kanker. Selain itu juga bisa untuk memprediksi harapan hidup penderita. Makin tinggi stadium kanker, makin rendah harapan hidup penderita.

Situs Medicinenet.com menyebut, pengobatan kanker paru antara lain dilakukan dengan operasi (pada stadium I dan II), radioterapi, kemoterapi, krioterapi (operasi beku) dan brakiterapi (penanaman keping radioterapi dekat jaringan kanker).

Terapi lain adalah terapi target dengan obat seperti erlonitib dan gefinitib yang menyasar pada protein yang berperan dalam pembelahan sel. Terapi lain memanfaatkan obat antiangiogenesis (bevacizumab) yang menghambat pembentukan pembuluh darah baru di jaringan kanker. Selain itu, ada juga terapi fotodinamik, ablasi radiofrekuensi, serta imunoterapi menggunakan campuran antibodi dan vaksin.

Menurut Anwar, secara statistik, harapan hidup mereka yang didiagnosis kanker paru stadium IV adalah beberapa bulan sampai beberapa tahun. Umumnya kurang dari satu tahun.



Sumber : www.kompas.com

Selasa, 30 Agustus 2011

Ekstasi Obat Kangker ??



Ekstasi yang dikenal luas sebagai salah satu jenis narkoba berpotensi menjadi obat untuk menyembuhkan kanker setelah para ahli berhasil memodifikasi zat kimia tersebut.
Peneliti di Birmingham, Inggris, mengklaim obat yang juga dikenal sebagaimethylenedioxymethamphetamine (MDMA) itu dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, seperti leukemia, limfoma, dan myeloma. Bahkan, obat ini dipercaya dapat menekan pertumbuhan kanker 100 kali lebih besar.
Ekstasi sudah diketahui efektif dalam mengobati lebih dari setengah dari jenis kanker sel darah putih. Namun, penggunaan dalam dosis besar justru bisa mematikan.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Investigational New Drugs, para ilmuwan mengatakan, penemuan obat ini tentu dapat digunakan oleh tenaga medis (dokter) untuk mengatasi kanker apabila dapat diproduksi dalam bentuk yang aman.
"Ini adalah penemuan yang sangat menarik. Hasil modifikasi obat MDMA ini dapat membantu orang yang menderita kanker darah," ungkap Profesor John Gordon, pemimpin riset dari Universitas Birmingham.
"Meskipun kami tidak ingin memberi harapan palsu, hasil penelitian ini mempunyai potensi untuk terus dikembangkan dalam beberapa tahun ke depan," ujarnya.
Sementara itu, Dr Julie Sharp dari Cancer Research di Inggris mengatakan, "MDMA adalah jenis obat berbahaya. Para peneliti perlu memastikan apakah obat tersebut dapat dibuat dalam versi yang lebih aman untk mengobati penyakit, seperti kanker darah."
"Meskipun tingkat harapan hidup pasien leukemia telah meningkat selama 30 tahun terakhir, pendekatan baru untuk pengobatan masih diperlukan guna mengatasi penyakit ini jauh lebih efektif," katanya.

Vitamin D Bisa Pengaruhi Mood







Sekitar 50 persen perempuan ternyata cenderung lebih mudah mengalami gangguan suasana hati dibandingkan pria. Suasana hati atau mood adalah keadaan emosional seorang individu. Ketika ada sesuatu hal memengaruhi keadaan emosi secara berkepanjangan, seorang individu bisa mengalami gangguan mental seperti depresi atau gangguan afektif musiman (SAD).
Menurut beberapa penelitian, gangguan suasana hati juga berhubungan dengan rendahnya rendahnya asupan vitamin D dalam tubuh seseorang.
Salah satu penelitian yang mendukung hal itu adalah riset yang dipublikasikan "Journal of Nutrition, Health and Aging" pada 1999.  Dalam penelitian itu, relawan dengan kadar vitamin D rendah yang mengonsumsi suplemen selama uji coba dilaporkan mendapat nilai yang lebih baik pada Skala Penilaian Depresi Hamilton.
Studi lainnya menyatakan defisiensi vitamin D pada kelompok berusia lanjut adalah suatu masalah yang umum, dan permasalahan tersebut ternyata dapat mempengaruhi mood mereka.
Dalam studi  yang diterbitkan pada Desember 2006 dalam "The American Journal of Geriatric Psychiatry" menunjukkan, orang tua yang mengalami kekurangan vitamin D mengalami suasana hati yang lebih buruk. Tak hanya itu, performa kognitif mereka pun ikut terpengaruh.
Penelitian lain yang dimuat  "The Journal Endocrinology and Metabolism", melibatkan 531 wanita dan 423 pria berusia 65 tahun dan lebih, menemukan bahwa pria dan wanita dengan tingkat vitamin D yang rendah memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena depresi suasana hati.
Obesitas
Ada pula kemungkinan korelasi antara depresi dengan pasien kelebihan berat badan dan obesitas yang mengalami kekurangan vitamin D.  Dalam sebuah penelitian tahun 2008, yang diterbitkan "The Journal of Internal Medicine" menemukan adanya hubungan antara gejala depresi dengan rendahnya tingkat serum 25-hydroxitamin D (suatu bentuk vitamin D di dalam tubuh).
Mengobati pasien dengan cara memberikan suplemen vitamin D ternyata dapat mengurangi gejala depresi. Perbaikan terlihat pada kedua kelompok, dimana kelompok pertama mengonsumsi 20.000IU tiap minggu dan kelompok kedua mengkonsumsi 40.000IU tiap minggu.
Tak boleh sembarangan
Meski beberapa studi mendukung adanya hubungan antara vitamin D dan membaiknya mood.   Namun penggunaan vitamin D tentunya tidak boleh sembarangan. Pasalnya, jika vitamin ini  dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan kondisi medis yang berpotensi menjadi serius, atau dikenal dengan istilah hypervitaminosis D.
Ini menunjukkan tingkat toksisitas vitamin D dalam tubuh Anda. Hypervitaminosis D menyebabkan terbentuknya kalsium dalam darah, sehingga memicu terjadinya beberapa masalah seperti nafsu makan yang buruk, kelemahan, muntah, kelimbungan, sembelit, dan mual. 
Sumber :
LiveStrong